Celengan Kacang Riko dan Bibit Pohon

Di pagi yang cerah, Riko membuka celengan berbentuk kacang miliknya; “klink!” koin-koin kecil berdenting saat ia mengintip isinya, lalu ia tersenyum puas. Dari luar, Nana melompat-lompat sambil berseru, “Riko, ayo jajan!” Riko menggeleng pelan. “Aku simpan dulu. Sedikit-sedikit, lama-lama jadi banyak.” Tak lama, Piko datang berlari kecil. “Aku punya dua koin,” katanya sambil memperlihatkan tangannya, “satu untuk jajan, satu untuk simpan.” Riko mengangguk setuju, dan mereka pun berjalan bersama ke sekolah. Di papan pengumuman terpampang gambar pohon hijau. Ibu Burung Hantu berkata, “Besok kita menanam pohon. Siapa mau membeli bibit?” Riko memeluk celengannya erat dan berbisik, “Aku mau.”

Di kantin, aroma kue hangat menguar, membuat Nana segera membeli tiga kue dan berseru, “Enak sekali!” Piko memilih satu kue saja, lalu berkata sambil menyisihkan koin, “Sisanya aku simpan.” Riko menatap koin di telapak tangannya ketika perutnya berbunyi, “kruuuk.” Ia menarik napas, menahan godaan, lalu tersenyum kecil. “Aku beli satu saja,” katanya. Ia memasukkan satu koin ke kotak jajan dan menyimpan satu lagi ke celengan. Sore hari di rumah, Riko menggoyang celengannya, lalu menghitung, “Satu, dua, tiga…” Matanya berbinar. “Cukup untuk bibit kecil!” Ia menutup celengan itu rapat-rapat dan tersenyum puas.

Keesokan harinya, kelas pergi ke toko bibit yang penuh pot kecil, karung tanah, dan deretan biji. Nana menggeleng sambil merogoh saku kosong. “Uangku habis.” Piko membuka pouch dan menghitung cepat, lalu meringis. “Aku hampir cukup, tapi kurang satu koin.” Riko mengeluarkan celengannya, menepuknya pelan, lalu tersenyum. “Aku punya cukup untuk satu bibit pohon.” Ibu Burung Hantu tersenyum hangat. “Bagus, Riko. Pilih yang kamu rawat.” Riko menelusuri rak, berhenti pada bibit mangga kecil dengan daun hijau cerah yang berkilau. Ia mengangguk mantap. Nana mendekat dan berbisik, “Bolehkah kami ikut menanam?” Riko menoleh, lalu mengangguk. “Tentu.”

Di halaman sekolah, mereka menggali tanah. “Ayo, lebih dalam,” kata Piko. Riko menaruh bibit. “Pelan-pelan.” Nana menyiram air. “Segar!” Mereka menutup tanah dan menepuknya. “Selesai!” Ibu Burung Hantu berkata, “Tanaman ini butuh air dan waktu.” Riko mengangguk. “Seperti menabung.” Nana melihat celengan Riko. “Besok aku mau mulai juga.” Piko tersenyum. “Aku akan tambah satu koin tiap hari.”

Beberapa minggu kemudian, pohon kecil itu sudah tumbuh dengan daun yang makin rimbun. Setiap pagi Riko datang membawa gayung, menyiram perlahan sambil berbisik, “Minum, ya.” Nana berlari menghampiri dengan celengan baru, menggoyangkannya hingga berbunyi, “Dengar! Klink-klink!” Piko ikut tersenyum, menepuk saku. “Aku sudah cukup untuk bibit berikutnya.” Ibu Burung Hantu memandang mereka dengan mata hangat. “Kalian merawat dengan baik.” Riko menepuk tanah di sekitar batang. “Menabung membantu kita membeli dan merawat.” Mereka berdiri bersama di bawah daun-daun hijau yang berayun saat angin bertiup pelan. “Pohon kita tumbuh!” seru mereka bersamaan.
Create your own personalized AI storybook for kids on Scribblo